Kotak Pencarian

Sabtu, 01 September 2012

Cerpen Karya Sendiri :)

| |


PELAJARAN BERHARGA DARI SETITIK BINTANG SENJA

Sore itu, jum’at sore, seperti biasanya aku pergi ke mushola di dekat rumahku untuk mengikuti pengajian. Saat aku tiba disana ternyata belum banyak anak-anak yang datang. Hanya ada segelintir anak seusiaku yang sedang berkumpul di halaman mushola sambil bercengkrama untuk sekedar mengisi waktu kosong selagi bu Ustadzah belum datang. Aku pun memilih tempat di pojok beranda mushola yang agak sepi untuk sekedar duduk-duduk dulu sambil menunggu kedatangan bu Ustadzah. Ternyata aku datang terlalu cepat.
          Dari tempat aku duduk, aku bisa melihat dan sedikit mendengar sekumpulan anak-anak yang berusia kira-kira sekitar 6 tahun sedang bermain-main di tanah wakaf sebelah mushola. Aku suka anak-anak, aku senang memperhatikan mereka bermain. Mereka sedang bermain kelereng dan terlihat seperti sangat menikmati permainan mereka itu.
          Ditengah-tengah permainan, ada seorang anak yang keluar dari kerumunan itu. Dia berjalan ke arah pohon besar yang ada di ujung lapangan. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan, tapi tak tahu mengapa juga aku lebih tertarik memperhatikan anak itu daripada anak-anak lain yang masih bermain. Lalu kulihat dia membungkuk sebentar dan sesaat kemudian aku melihat dia mencoba memanjat pohon itu. Aku terkejut melihatnya, tidak ada seorang pun yang melihatnya melakukan itu selain aku, jadi tanpa pikir panjang lagi aku segera berlari ke arah pohon itu untuk memastikan tidak terjadi apa-apa padanya.
          Sesampainya di bawah pohon itu, aku sangat takut terjadi sesuatu pada anak itu karena dia memanjat terlalu tinggi. Akhirnya aku berkata padanya dan meminta dia agar segera turun “De, apa yang kamu lakukan disana? Nanti kamu bisa jatuh, ayo lekas turun!” tapi anak itu tidak menggubris peringatanku, ia memanjat semakin tinggi dan aku pun semakin panik “Ayolah de, lekas turun! Kulit pohon itu sangat licin, kamu bisa terpeleset.” Dia tidak turun juga, entah apa yang sedang dilakukannya.
          Setelah aku meminta dia turun entah untuk yang keberapa kalinya, akhirnya anak itu mau turun juga. Sesampainya dia dibawah, aku langsung bertanya padanya dan memeriksa keadaannya “Kamu tidak apa-apa de? Sedang apa tadi kamu diatas sana?” anak itu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dan menjawab pertanyaanku dengan panjang lebar dan pelafalan kata yang masih cadel “Kakak, tadi itu ade naik keatas pohon karena ada seekor anak burung yang jatuh. Ade tidak tega melihat dia jauh dari ibunya, pasti dia merasa sangat ketakutan. Ade juga yang sudah sebesar ini kalau jauh dari mama sering ketakutan, apalagi burung kecil itu. Jadi ade naik ke atas pohon itu untuk mencari sarang keluarganya dan mengembalikan dia ke keluarganya supaya dia merasa aman dan nyaman ditengah-tengah keluarganya, begitu kak.”
          Aku terdiam mendengar cerita anak itu karena merasa tersentuh. Anak ini, yang usianya masih sangat belia ternyata mempunyai rasa belas kasih terhadap sesama yang begitu besar, hingga dia rela membahayakan nyawanya sendiri hanya untuk menyelamatkan seekor burung kecil. Aku sangat tersentuh. Aku saja yang sudah menginjak usia remaja sering kali mengabaikan keadaan makhluk-makhluk hidup lain disekitarku, sedangkan anak ini yang usianya terpaut sangat jauh dariku sudah bisa mengasihi sesamanya.
          “Kakak kenapa menangis?” pertanyaan itu menyadarkanku bahwa ada sesuatu yang mengalir di pipiku, ternyata aku menangis. “Tidak apa-apa de, kakak hanya terharu melihat kebaikan kamu. Ternyata kamu sangat baik sekali.” Anak itu tersipu malu dan tersenyum polos. Pipinya yang gendut bersemu merah.
Aku tersadar ternyata hari semakin sore, sekumpulan anak-anak yang sedang bermain pun sudah tidak ada dan bu Ustadzah pasti sudah datang. Kemudian aku berkata lagi pada anak itu “De, ini sudah sore, sebaiknya kamu pulang. Mamamu pasti cemas mencarimu, ayo pulang sana!” Dia menjawab malu-malu “Iya deh kak, ade pulang dulu ya, dadah kakak….!” Anak itu pun berlari keluar lapangan sambil tertawa dan melambaikan tangannya. Aku tersenyum ke arahnya dan membalas lambaian tangannya.
Setelah dia hilang dari pandangan, aku bergegas kembali ke mushola untuk mengikuti pengajian. Bu Ustadzah datang tepat ketika aku memasuki halaman samping mushola. Beliau tersenyum padaku dan bergegas masuk, aku dan teman-teman yang lain mengikuti. Tema pengajian kali ini membahas tentang pentingnya rasa kasih sayang terhadap sesama ciptaan Allah. Untuk sesaat aku terkejut karena tema ini sangat berkaitan erat dengan kejadian yang baru saja aku alami. Aku pun tersenyum dan mengikuti pengajian dengan penuh khidmat.
Pengajian selesai terlalu cepat bagiku. Aku pulang dengan perasaan yang sangat bahagia karena aku mendapatkan pelajaran yang sangat berharga hari ini. Pelajaran yang sangat istemewa, karena aku mendapatkannya dari seorang anak berusia 6 tahun yang masih sangat polos. Sepanjang jalan pulang itu aku merenungkan semua kejadian tadi, lalu dengan tekad yang teguh aku berjanji pada diri sendiri aku akan lebih peka terhadap lingkungan sekitarku, bukan hanya pada orang-orangnya saja tetapi pada semua makhluk ciptaan Allah SWT. karena saling menyayangi itu ternyata sangat indah. Maha Besar Allah, yang telah menganugerahkan perasaan kasih sayang yang teramat besar kepada seluruh umat-Nya..
SELESAI
HANNISA TM (210412)~~

1 komentar:

top
Liyando hermawan mengatakan...

senpai ceritanya bagus mohon bimbinganya saya ada di http://leovincin.blogspot.com/ saya akan memulai karya saya dari sini mohon bantuanya

Poskan Komentar

Pages


Welcome to my blog!! Please enjoy
Diberdayakan oleh Blogger.

TikTokTikTok

Share It

die Kalender

 
 

Honey Bee | Designed by: Compartidísimo
Images by: Scrappingmar©